Senin, 31 Januari 2011

The power of book


"Ini tentang teman-teman baru saya"

Ya, semenjak kembali ke kota kelahiran ini dan kembali menjadi ‘anak rumah’, semenjak saya harus memaksa diri beradaptasi memulai hal baru di tempat yang lama, semenjak semua teman-teman yang saya pikir merindukan saya dan kini menjauh. Semenjak akhirnya untuk kesekian-puluh-kalinya saya merestart ulang daya, imaji, rasio, asa, dan pola, menjadikan elemen-elemen itu kembali segar seolah baru, memberikannya imun sedikit lebih, dan memaksanya untuk terbiasa.

Saya harus merelakan 7kg bobot tercinta yang sempat saya miliki, terampas dengan paksa dalam waktu 3 bulan pertarungan adaptasi menegangkan ini. Ternyata, 7kg dan waktu 3 bulan bukan kalkulasi menjanjikan untuk meyakinkan diri bahwa semua getir adaptasi ini berakhir. belum. Getir adaptasi masih berlangsung hingga pada saat barisan ini saya susun.

Siapa yang mengira bahwa getir itu tidak semata-mata merebut bobot badan saya, tidak hanya memberi berbagai kejut kesal dan emosi tak tertahankan, tidak hanya menyapu nyaris bersih nafsu makan saya, tidak hanya menaburkan bumbu lada dalam pertemanan, tapi getir itu juga menghembuskan aroma. Aroma varian baru, begitu saya menyebutnya. Aroma halus namun pekat. Terhembus begitu tipis tapi dengan kontinuitas yang berkesinambungan. Getir menuntun saya pada aroma itu. Getir hanya menuntun dan saya yang menjemputnya. Menjemput aroma dari teman-teman kecil saya yang baru.

Maaf jika saya berlebihan. Tapi teman-teman kecil itu hanya sekumpulan buku. Ya, dan buku tidak terlihat ‘hanya’ untuk saya. Saya mengangkat drajatnya sebagai teman belakangan ini.

Begitu sederhana dan tersentuh sudah sejak lama. Tapi saya baru benar-benar memahaminya sekarang, ternyata buku bisa menjadi tempat tukar pikiran, penenang kegalauan, dan penyemarak kesunyian. Jika komik serial cantik dengan berbagai tokoh yang rupawan dan cerita-cerita dongeng adalah menjadi favorit saya dari SMP hingga akhir SMA, lalu beranjak ke novel-novel picisan pada awal perkuliahan, tapi tidak untuk sekarang, saya lebih suka menyebutnya harta. Harta yang murah. Tapi akan menjadi sangat mahal ketika harta itu benar-benar bisa tergenggam.

Ada beberapa momen dimana keakraban antara saya dan buku terjalin sangat intim. Butuh waktu ± 2 jam dari rumah menuju kampus saya yang baru sekarang. Menggunakan angkutan umum yang tidak nyaman, kondisi jalan yang sulit ditebak, cuaca yang menyebalkan, dan harus berjejalan dengan orang-orang dengan berbagai bau. Tidak satu haripun saya lewatkan tanpa mengumpati itu semua. Sangat menyebalkan. Itu salah satu faktor kenapa saya kehilangan 7kg tercinta, dari berbagai faktor yang ada.

Di dalam jeda 2 jam itulah saya melahap beberapa lembar halaman dari hari ke hari. Saya menyelesaikan 2 buku untuk setiap bulannya. Itu sebuah kontinuitas baru dalam hidup saya, kontinuitas paling berkualitas yang pernah saya miliki.

Pada jeda 2 jam itu saya mempelajari banyak hal baru. Buku-buku itu menceritakan bermacam kisah, dan memeparkan beberapa perpektif sederhana yang luar biasa. Dua jam jeda bersama buku-buku itu membuat saya melupakan berbagai hal. Melupakan kekesalan yang saya bawa dari rumah, melupakan betapa sulitnya yang saya jalani sekarang, melupakan bahwa sekarang saya kehilangan teman, melupakan tentang emosi, penyesalan, kesepian dan segala sudut pandang menyedihkan yang tertuju pada diri saya. Semuanya terlupakan.

Benar saja. Keintiman pada jeda2 jam itu sangat berpengaruh pada kehidupan saya sekarang. Beberapa hal mulai terasa nyaman. Meski kenyamanan itu memang harus tergantikan dengan hal-hal berharga lainnya. Sekarang, tidak ada lagi jeda 2 jam. Tidak dengan mengisinya dengan lembaran halaman buku. Sudah tidak bisa. Saya sering merindukannya sesekali. Tapi kehilangan jeda 2 jam bukan berarti saya juga harus kehilangan teman baru saya. Saya menciptakan jeda yang lain, yang lebih lama.

Saya bersyukur. Untuk semua yang saya alami. Yang saya pelajari. Yang saya lewati. Perspektif-perspektif itu luar biasa. Saya berusaha untuk mempelajarinya dan menjadikannya harta abadi di benak saya. Sungguh teman baru yang mengagumkan. Dan saya rasa ini masih awal dari sebuah perkenalan. Hey teman-teman kecil, Salam kenal :)

Dan saya akan berbagi. Berikut adalah beberapa teman yang akan saya perkenalkan:





ini adalah buku yang lumayan susah untuk saya cerna. Tipis tapi sangat berat. Butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikannya. Seperti kebanyakan orang bilang, ya, buku ini memang luar biasa. saya juga mengalami dampaknya :D






Ini dia! kumpulan kisah inspiratif. Beberapa kisah di dalamnya juga terputar dalam kehidupan saya. Untuk sebuah introspeksi.






Dan ini yang sedang saya baca. Meskipun baru menyelesaikan separuhnya, tapi ini yang paling bagus (dari dua di atas, versi saya). sederhana, mudah dicerna. Dan coba tebak, hal-hal bagus apa yang bisa kau curi di dalamnya?






sesekali saya juga menyelipkan buku fiksi. ini wajib dibaca untuk penggemar fiksi detektif.

Rabu, 12 Januari 2011

MIMPI-sueño-droom-꿈-traum-dream



Mimpi. Ya, seperti kebanyakan orang mengatakan. Mimpi adalah bunga tidur. Tapi bagi saya mimpi tidak hanya sebuah bunga tidur.*saya jadi ingin senyum-senyum sendiri untuk menguraikannya, karna ketika saya menyusun kata-kata ini , 10 menit yang lalu saya baru saja bermimpi indah*. Oke, jadi mimpi bagi saya adalah kehidupan sesaat. Kehidupan setengah bias. Cerita-cerita pendek yang cenderung tidak pernah selesai , selalu terpotong. Mungkin beberapa merupakan cerita-cerita bersambung tapi dengan arus yang kacau balau bersimpangan. Ada jiwa-jiwa yang hidup tapi terasa begitu.. begitu renta untuk disentuh secara nyata. Setelah keluar dari dunia itu lalu kembali ke dunia nyata, maka baru bisa diklasifikasikan apakah sebuah mimpi itu buruk, atau indah.
Mimpi tidak selamanya hanya indah atau buruk. Terkadang mimpi justru kosong, atau memberikan cerita-cerita dengan emosi datar.
Selalu ada senyum untuk sebuah mimpi indah. seperti mendapat sebuket bunga ketika saya sadar dengan mimpi yang masih terasa segar. *seperti pagi ini, saya seperti mendapat sebuket bunga anggrek*.
Tidak hanya mimpi indah. saya juga pernah sangat akrab dengan mimpi buruk, untuk berbulan-bulan lamanya. Dengan kontiniu yang cenderung tak berjeda. Seolah tidak memberi celah sedikitpun untuk menyusupkan mimpi indah. ingat sekali, hampir setahun yang lalu, sebuah kontinuitas yang mengerikan. Mimpi buruk yang tidak berkesudahan. Saat itu saya masih kuliah di bogor, saat menjalani hidup mandiri, saat segala sesuatunya terlihat sangat biru-hijau-abu dengan konsentrat yang sangat pekat. Syukurnya sekarang sudah berakhir. Bukan berarti saya absen selamanya dari mimpi buruk, tapi paling tidak kontinuitas itu berakhir. keadaanya berbalik sekarang. Justru mimpi buruk yang mencoba mencuri-curi celah untuk menyusup. Memang, kontinuitas menyebalkan itu tidak berakhir bergitu saja. Ada kunci, ada rahasia, ada sebuah mantra.
Mimpi itu cerita-cerita pendek yang menarik bagi saya. Dimana saya terkadang memaksakan diri untuk menjadi saya yang lain. Saya yang pasif dalam dunia nyata, menjadi begitu agresif dalam dunia mimpi. Saya yang begitu teratur di dunia nyata, bisa menjadi begitu brutal dan terlalu sangat berani dalam dunia mimpi. Saya pada dunia nyata dan saya di dalam mimpi, cenderung sangat berbeda. Dan terkadang saya justru menstelnya sendiri, mau seperti apa saya bersikap dalam dunia mimpi. Dan saya menikmati hampir setiap detik mimpi itu.
Dan saya masih terkagum, betapa elemen mimpi yang begitu sederhana untuk kebanyakan manusia yang tidak menyesapinya, terasa sangat menakjubkan bagi saya. Elemen keajaiban dari jutaan keajaiban lainnya yang Tuhan selipkan dalam kehidupan. Ya, Elemen keajaiban.
Jadi, ketika banyak orang meneriakkan
“jangan banyak bermimpi!!!” “dasar, tukang mimpi!!”
atau teriakaan lainnya dengan tema pemojokan bahwa mimpi itu menyesatkan, sungguh sangat disayangkan. *Sedikit rasa iba untuk mereka yang tidak dapat menikmatinya*. Image yang terbentuk justru dengan contoh perwakilan teriakan-teriakan itu, menciptakan sebuah pencitraan bahwa mimpi itu sungguh sangat tidak bermanfaat. Si pemimpi yang mengagumi mimpi-mimpinya cenderung dikategorikan sampah masyarakat. Oke, itu berlebihan.
Tidak ada salahnya menikmati mimpi. Adalah hak setiap manusia untuk menyesapi atas mimpinya masing-masing. Bagaimana memposisikan mimpi itu, dan bagaimana cara mengaguminya. Predikat ‘si pemimpi’ tidak akan terasa buruk, ketika si pemimpi itu secara profesional dapat membedakan kehidupannya di dalam mimpi dan di dalam kehidupan nyata. Yang mana elemen ajaib dan yang mana realita sentuhan oksigen. Bersikaplah berbeda untuk keduanya jika masih ingin dianggap waras untuk orang-orang di sekitar kehidupan nyata. Maka Saya menjadikan mimpi sebagai motifasi. Bisikan positif. Rancangan masa depan. Toh sudah banyak orang menyadari “hidup berawal dari mimpi”
. Saya setuju. Dan mimpi pun berakhir menjadi sebuket bunga ketika saya terbangun lalu kembali ke dunia nyata. Sebuket bunga varian. Jadi, buket bunga apa yang kamu terima pagi ini?

Senin, 06 Desember 2010

making love.. again? c'mon lomo !

ya.. ini roll kedua, dan berikut hasil yang agak mendingan (masih dari kamera slim white angel) di antara yang hancur :p :











fotonya saya ambil di cafeteria Trans TV dan masih di sekitar rumah. Pada akhir bulan mei 2010.

Dan saya semakin mencintai benda ini. Ada 4 roll lagi yang belum saya cuci scan. Saya penasaran bukan main dengan hasilnya :p

lomo.. let's making love!

Dan berikut adalah hasil kencan pertama dengan slim white angel. Menggunakan film manual biasa (saya lupa merk filmnya fuji atau kodak). Dan ini roll pertama saya :D

















Foto diatas diambil akhir bulan mei 2010 di kampus dan sekitar rumah saya di Bogor. sangat seadanya. Maklum roll pertama :D

lomo! I'm in love..

Sebenernya hobi ini adalah buah hasutan dari temen PKL saya. Saya tidak pernah tau tentang dunia kamera sejenis ini sebelumnya. Tapi ketika saya mulai jatuh cinta pada kamera ini, saya anggap "si teman PKL" adalah cupid-nya.

Awalnya bagi saya, sulit menemukan kamera jenis ini. Mencari tau ke om google memang memberi banyak jalan keluar, tapi kebanyakan darinya adalah jalan buntu. Beralih ke jejaring sosial facebook. Dengan kata kunci "lomo" saya menemukan beberapa page yang cukup jelas memperkenalkan benda ini lebih jauh. Dan sampai memilih salah satu page yang berkompeten, lalu saya mengikuti halaman postingnya.

Ternyata page itu menawarkan berbagai jenis kamera semacam ini. Bervarian harga. Sangat terjangkau.

Meluapnya rasa penasaran membuat saya gregetan untuk memiliki salah satunya. Memilah dan memilih, kemudian menetapkan salah satunya untuk menjadi kencan pertama saya :)


namanya slim white angel

Bagus untuk pemula yang baru penjajakan seperti saya. Dan harga yang tentu terjangkau. Tapi slim white angel ini belum termasuk keluarga lomo, meski sedikit banyak mereka satu ras. Kamera ini masih tergolong toycam. Tapi hasilnya masih seputar nuansa lomo.

Jangan coba-coba membandingkan hasil jepretannya dengan kamera digital. Jangan! Karna memang tidak pantas dibandingkan. Hasil jepretan kamera ini jelek? tentu saja tidak. Hasil jepretannya memang berbeda. Kamera jenis ini dan kamera digital adalah dua alam yang berbeda, meski dalam dunia yang sama. sama-sama dunia kamera. sama-sama dunia foto. tapi dengan citarasanya masing-masing.

si cupid mengatakan, kalau dunia kamera digital (SLR contohnya) lebih memuaskan untuk sebuah profesi. tapi kamera lomo sangat memuaskan untuk hobi. Dan saya sependapat.

kamera slim white angel ini menjanjikan hasil jepretan seperti berikut (http://www.flickr.com/groups/eximus/) :

1st storey

i am driving!

Traffic Jam

Andrea, maybe Alba, maybe Irene..

meow.

onions, peppers, grapes and other stuff.

Green all day

sc000c35f8


foto-foto ini saya ambil dari http://www.flickr.com/groups/eximus/pool/

Bagaimana? Bisa menemukan daya tariknya? ini inner beauty yang berbeda :D

- PROLOG -

Ini revolusi!

"what's up blogger ! :)"


Sebenarnya saya ada niatan untuk menghapus postingan lama, karna semua postingan itu terasa sangat “LABIL”. Bahkan saya sempat berpikir untuk membuat blog baru dan menghapus blog “LABIL” (yang sekarang) ini. Tapi sepertinya sangat disayangkan. Karna dengan memulai blog baru berarti membuang blog ini. Mengubur. Membunuhnya. Sedangkan blog ini (tidak bisa saya pungkiri) dan segala sesuatu di dalamnya (yang “LABIL” itu) memang tetap akan menjadi bagian dari perjalanan hari-hari saya yang kemarin. Bagian diri saya dan pengalaman saya (yang sempat “LABIL” juga, sesekali juga masih sampai sekarang :p).

Jadi intinya, saya mempertahankannya :) . Terlepas dari apapun yang terjadi di hari kemarin itu, saya tidak berusaha melupakannya, hanya saja akan lebih baik jika memulai dengan yang baru, yang lebih seru, dan tidak lagi hanya biru melulu.

Dalam jeda hampir setahun ini saya absen dari posting, sebenarnya banyak yang ingin saya bagikan, semua sudah terangkai rapi di otak, ingin saya tulis di note book untuk menuangkannya lalu kemudian mem-posting-nya di blog, tapi apa daya.. membuka note book untuk mengetikkannya saja saya dihalang-halangi rasa malas yang meraja lela. Banyak sekali yang ingin saya bagi. Sampai-sampai saya lupa apa itu.

Dan sekarang saya kembali :) ingin berbagi :) merubah hampir keseluruhan..

Mungkin prolog ini terlalu tidak penting untuk disimak (tapi tetap saja penting karna saya yang punya blog! Terserah saya dong! :p) tapi cukup untuk menjadi sebuah penjelasan. Saya tidak tega, jika mendapati ada blogger (nyasar) yang mampir disini (blog yang tadinya “LABIL”) bingung jika saya ujug-ujug posting dengan warna posting-an yang berbeda :p. Terserah yang baca mau mikir apa. Mau mikir gak penting kek apa kek, tapi perlu di ingat sekali lagi. Ini blog saya. Jadi terserah saya.

Well, prolog sampai pada penghujung basa basi. Jadi maklum kalo posting-an sebelumnya terasa menjemukan. Kenapa bisa menjemukan? Saya sudah membahasnya di atas. Dan itu akan tetap manjadi bagian dari blog ini. saya ingin blog ini juga tumbuh dewasa seperti saya :) (<--- jangan dipercaya!).

Senang menulis. Senang berbagi. Senang menjadi tidak “LABIL” lagi :).
Semoga berikutnya akan lebih bermanfaat.

Minggu, 11 April 2010

as their happiness as i wish..
















Bertambah lagi satu pasangan indah yang berbahagia..
Senangnya..
Aku tersenyum lalu memandangi mereka lekat dari balik media dua dimensi
Indahnya..
Seolah perasaan bahagia mereka terpancar menyilaukan mata
Sungguh mendapat anugrah Tuhan yang berharga ku pikir
Tanpa ku sadari sudut bibirku melengkung tersenyum
Tapi cukup ku rasakan hati ini bergetir iri..
Haha.. lucunya..
Boleh aku jujur?
Aku bahagia melihat setiap pasangan yang bertemu dengan kasih lalu saling menyayangi
Boleh aku mengatakan satu hal lagi?
Disaat yang sama aku bersedih atas sesuatu di dalam sini yang menyedihkan
Tuhan....
Boleh kah untuk kali ini aku mengeluh, lagi?
Tuhan....
Masih boleh kah?
Tapi aku merasa malu.. sungguh aku malu...
Aku yakin Tuhan melihat semburat malu yang menyedihkan itu..
Kemana harus aku sembunyikan?

Senin, 22 Februari 2010

just a simple question...

do u ever really really love someone that u believe he can be ur soulmate forever and ever ?

jawaban apa yang paling tepat.. sepertinya belum atau sepertinya tidak?

Jumat, 12 Februari 2010

Sebut Saja Aku Gila.. (aaaarrrr!)

Sebut saja aku gila..
Tapi aku suka..
Romance
Romance
Romance
Romance
Romance
Romance
Romance
Romance
Romance
Romance
Romance
Comedy
Advanture
War
Rock
And a lot of fun...
Aaaaaaaarrrr!!!

Selasa, 09 Februari 2010

Benci untuk membenci














Ingin menangis...
Tapi semua tersendat di ujung rongga mulutku
Kerongkongan ini bergetar menahannya
Aku terpaku diujung jemariku
Mencoba menyampaikan huruf-huruf kekhawatiran
Kosong sebenarnya masalah itu
Hampir tidak dapat ku sentuh apa yang membuatku segelisah ini
Sering kali aku terpaku sedih meratapi ntah apa itu wujudnya
Dan tak jarang aku terguncang
Lalu tersenyum kembali seolah semua baik-baik saja
Apa yang ku alami
Apa yang ku resapi
Semua terasa sunyi
Untuk sekian kalinya ku hempas kegelisahan itu dengan tawa
Untuk seribu kalinya aku meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja
Dan ratusan mantra terucap yakin namun tetap saja tidak dapat dipercaya
Aku membayar lebih.. untuk sebuah mantra pengusir gelisah
Aku membayar lebih.. untuk membuatnya sirna meski sekejap
Aku membayar lebih.. untuk membuatnya semakin betah.. ku rasa
Aku benci gelisah ini
Aku benci kesedihan ini
Aku benci mantra-mantra tolol itu
Aku benci.. aku benci untuk membenci diriku sendiri..

Gelisah














Kegelisahan macam apa ini?
Sebisa mungkin aku melewatinya dengan penuh kesabaran
Sebisa mungkin aku menghadapinya dengan penuh senyum
Beribu pertanyaan janggal muncul dengan canggung satu persatu
Tapi aku sekuat mungkin menjawabnya dengan “ok.. semua baik-baik saja”
Topeng.
Persetan dengan semua ketenangan palsu yang ku ciptakan sendiri
Persetan dengan semua senyum kosong ditiap pagi aku terbangun
Sial! Aku kesal dengan diriku sendiri
Belum pernah aku merasa sekesal ini
Berbagai upaya sudah ku lakukan hanya untuk mengusir gelisah laknat itu
Bukan sesuatu yang murah ku lakukan untuk membuat gelisah itu menjauh
Sagala hal.. segala cara sampai akhirnya aku merasa gelisah itu semakin lekat menggerayangiku
Aku butuh seseorang untuk mendengarkanku
Tapi aku berani menjamin tak ada satu katapun yang bisa ku ungkapkan
Aku butuh pelukan lebar untuk sekedar merasa hangat lalu melupakannya
Tapi aku berani bersumpah tidak akan ada yang bisa menjanjikannya
Tuhan mengujiku untuk kesekian kalinya
Dia menguji dengan hal semu yang menjemukan
Dia mencoba kesabaranku untuk kadar yang tak tertakar
Dia...
Aku butuh pertolongannya..

Minggu, 27 Desember 2009

"life's rule"

ini 10 pelajaran pertama yang saya peroleh selama hampir 3 tahun hidup jauh dari orang tua.. sebagian kecilnya (no 1 dan 2 ) sudah saya terapkan semasa SMA. Dan mungkin ini akan berlanjut ke nomor-nomor berikutnya, karna perjalanan saya menggelandang indonesia masih panjang... (berharap menggelandang dunia juga :'( *hope)

1. Berjalanlah seorang diri, lakukan semua yang ingin dilakukan tanpa harus meperdulikan kata mereka, selama tidak mengganggu seorangpun penghuni bumi
2. Berteman dengan siapa saja... tapi tidak untuk bersahabat !
3. Jika sakit, bertahanlah sebentar. Namun jika terlalu mengganggu kabarkan itu pada orang rumah karna suara mereka 49% menyembuhkan.
4. Persetan dengan semua yang menjelma seolah teman, sesungguhnya mereka (sebagian banyak) gak lebih dari sekumpulan bedebah.
5. Jangan terlalu banyak bicara, karna semakin banyak bercerita, maka mereka semakin mudah menjengkali seberapa dalam yang kau punya.
6. Jika tidak nyaman akan satu personal maka mundurlah dengan perlahan, jangan perdulikan jutaan persepsi yang lahir di kepalanya, kecuali jika dia bertanya maka jawab apa adanya.
7. Pelajari perlahan hal-hal tidak menyenangkan yang keluar dari mulut mereka, karna emosi meluap-luap sudah sangat out of date!
8. Hitung seberapa banyak mereka menyakitimu dengan kata/perbuatan, jika terasa sudah cukup, ledakkan dengan santai, tapi pastikan mereka tertampar dengan terdiam.
9. Boleh bermalas-malasan, tapi jangan kelewatan.
10. Berdoa, itu yang terpenting untuk menjaga diri dari semua orang/pengaruh jahat di sekitar.

" wanita favoritku ♥ "




Berjam-jam hari ini aku menikmati malam..
Dingin.. berangin .. tapi tidak begitu dengan langit yang tampak hangat dengan ribuan sinar bintang..
Bintang terbanyak yang jarang sekali ku temui..
Ketika menengadah ke langit.. seolah aku ingin terbang membawa jiwa, raga, dan pikiran ini jauh ke atas sana...
Tapi tidak selintaspun terbesit di benakku bahwa bintang-bintang malam ini adalah ribuan bintang penyambut jiwanya...
Penyambut jiwa dari seorang wanita yang sangat aku sayangi..
Wanita yang memiliki peran tersendiri untukku..
Wanita favoritku.. wanita penceritaku..
Aku atau siapapun itu memang tidak akan pernah tau tentang kematian..
Aku tahu dan sangat paham bahwa semuanya pasti akan mengalami hal itu..
Tapi air mata akan selalu menjadi simbol atas kematian.. akan selalu meninggalkan air mata kasih sayang...
Jika sakit itu teramat melelahkan untuk mu wahai wanita favoritku.. maka aku harap hal ini adalah yang terbaik bagi mu..
Jika luka itu teramat sangat berat untuk kau pikul sendiri.. maka aku harap ini adalah yang teringan untuk dilewati..
Kembalilah dengan ketenangan wahai wanita favoritku... tertidur di pangkuan-Nya dengan bahagia..
Lepaskan semua rasa sakit dan luka itu... buang jauh dan tinggalkan beban yang selama ini kau peluk seorang diri..
Maaf jika aku tidak banyak membantu..
Tapi aku harap kau tahu.. bahwa aku masih punya sejuta cita-cita untuk mu dan mereka..
Jika menginginkan sebuah kesempatan..
Ingin rasanya menahanmu sedikit lebih lama di sini hingga kau bisa menikmati cita-citaku..
Menahanmu sedikit lebih lama untuk menikmati kebahagian yang lebih bersama aku dan mereka..
Menahanmu sedikit lebih lama untuk bersama-sama pergi mengunjungi mekah.. aku yakin kau tidak ingin melewatkan itu..
Tapi.. aku rasa Allah sangat sayang padamu.. Dia tidak ingin kau terlalu lama merasakan sakit itu.. dia tidak ingin kau berlama-lama menderita sembari menungguku mencapai cita-cita yang masih harus ku perjuangkan...
Dan semua keinginan menahanmu ku lepas.. ikhlas..
Teruslah tersenyum untuk anakmu yang akan selalu merindukanmu dan untukku yang selalu menyayangimu..
Terus dengarkan aku dari kejauhan atas keluh kesah yang selalu ku bagi bersamamu seperti dulu..
Terus dukung aku untuk tidak bersedih dan merasa sendiri, seperti waktu itu..
Terus lah di sana.. bahagia.. sampai suatu saat nanti aku menyusul dan kembali berkumpul bersamamu... (amien)
Ingatkan aku jika lalai mendoakanmu suatu saat nanti..
Aku harap doaku bisa menjadi setitik penyegar untukmu di sana..
Aku harap doaku bisa menjadi sebuah kalimat indah untuk memberitahukanmu bahwa aku sangat menyayangimu...
Istirahatlah di sana dengan tenang wahai wanita favoritku.. kau terlalu lelah ku rasa..


“nenek... colay sayang nenek.. maafin colay ya nek.. tidak bisa menyentuhmu meski untuk terakhir kali.. tidak bisa tidur di dekatmu ketika kau kesepian.. tidak terbayang jika nanti colay pulang.. colay tidak menemui nenek seperti biasa... tidak lagi bisa mencium pipimu yang hangat ketika berpamitan.. tidak lagi bisa melihat tawamu yang sederhana tapi menyejukkan..tidak lagi bisa mendengar ceritamu yang mengagumkan... semuanya pasti menjadi kenangan yang indah untuk kita.. senang rasanya mengenalmu sedekat ini.. senang rasanya menjadi salah satu pusat perhatianmu.. senang rasanya mempunyai nenek seperti dirimu.. bahagia di sana ya nek.. colay doakan nenek bertemu kakek di sana... Ya Allah.. sayangi nenek.. bahagiakan dia untuk bertemu belahan jiwanya di dalam surgamu... ingatkan colay untuk memberi tetesan doa setiap waktu.. lindungi mereka ya Allah.. maafkan mereka.. aaaaammmmmiiiiinnnnn”

"rasa mereka"

Dapat merasakan apa yang mereka rasa
Tapi tidak dapat merasakan apa yang dia rasa
Dapat membayangkan apa mimpi mereka
Tapi tidak memiliki bayangan atas mimpinya sendiri
Seolah merasa hidup di dalam dunia mereka
Tapi dia tidak pernah merasa hidup untuk dunianya
Merasa sanggup seperti menyentuh
Sakan memiliki dan terhubung
Sangat dekat.. sangat peka.. sangat terasa
Menangisi kesedihan
Berbahagia atas suka cita
Dan terasa seakan luka..
Tapi semua milik mereka.. rasa mereka..
Satupun .. sedikitpun.. setetespun.. bukan miliknya..
Sedih merasa iri..
Bingung kenapa seperti ini..
Harus bagaimana dan seperti apa?
Ntahlah...
Itu urusan dia..
Dan aku di sini.. hanya berharap dia sempat mersakan dunia seperti mereka...

Senin, 14 Desember 2009

whats up?




Bosan..
Bermain dengan hayalan membuatku jenuh
Memutuskan berhenti untuk bercanda dengan kesepian
Mengusir semua kunang-kunang yang semakin lama semakin memenuhi ruang kesendirianku
Membersihkan semuanya
Tapi ketika aku keluar
Dunia terdengar begitu ramai
Tapi kenapa aku tidak bisa melihat satu orang pun yang berbicara?
Untuk beberapa waktu aku terdiam dan berfikir kemana perginya manusia?
Dan kenapa hanya suara?
Setelah aku meninggalkan berjuta kesenanganku dengan hayalan
Hanya ini kah yang tersisa untukku?
Begitu ramai suara-suara itu seolah ada pesta besar di sana
Beberapa kali suara itu memanggil namaku
Tapi kepada siapa aku harus menoleh?
Ingin kembali rasanya, tapi bosan mengusirku untuk terbangun
Haruskah aku kembali tertidur?
Atau tetap terbangun dan terus terdiam di dunia yang tak berpenghuni?

Selasa, 24 November 2009

Sang Pemberi Permen


Semuanya berawal dari sore yang membingungkan itu. Sepele sebenarnya, tapi ntah lah.. hanya saja satu hal itu seolah memberi tetesan warna tersendiri untuk soreku yang abu-abu..
Hari itu, ketika bingung dengan jadwal janji bareng nyokap yang minta ditemenin belanja, dan harus merelakan waktu bersenang-senang bareng temen, akhirnya jatuh pada keputusan ‘menunggu’, selalu begitu. Bingung, karna nyokap gak jelas mau janjian di mana, sedangkan temen terus maksain buat bareng. Dengan yakin dan sedikit malas aku menolak halus ajakan mereka. Dan Bogor sore itupun tidak ingin melewatkan cuaca gelapnya yang segera akan disusul hujan.
Mulai berfikir, bahwa menunggu di halaman kampus yang penuh dengan pohon-pohon besar bukanlah tempat yang tepat untuk menunggu dengan kostum kemeja putih dan rok pendek menyebalkan ini. Mm.. menunggu di tempat tujuan sepertinya lebih baik, pikirku. Teman-teman pun mulai sibuk berpamitan satu sama lain (khas sekali pertemananku ala bogor), cipika cipiki, say bye, dan kata penutup lainnya. Begitu juga aku, karna kebetulan di sore yang beranjak malam itu kelasku adalah kelas terakhir pengguna kampus maka orang di sekitar yang berkeliaran tentunya kebanyakan teman sekelas. Mulai beranjak berdiri dan berpamitan pada 2 orang teman wanita dengan sedikit basa-basi, dan 4 orang pria dengan sedikit bercanda. Seperti biasa, ramai seketika dan mulai sepi ketika aku beranjak meninggalkan kerumunan mereka, resesi say bye itu tidak akan lebih dari 1 menit, dan pada umumnya semua berhenti bersamaan
Tapi kali ini beda, ntahlah mungkin ini hanya pikiranku saja, tapi siapa perduli dengan pikiranku. Aku yang menikmatinya jadi aku berhak merasakan apapun atas semua ketidak pentingan hal yang terjadi, meskipun itu sepele sekalipun. Say bye itu mulai terdengar redam ketika aku sudah mengambil 3 langkah meninggalkan kerumunan, namun tiba-tiba salah satu dari 4 pria itu memanggilku. “aya!” . “Ya?” aku berbalik pada sumber suara.” hati-hati ya” sambungnya dengan wajah meyakinkan dan sedikit menganggukkan kepala dengan tersenyum . Nyesss.... sore abu-abuku kini sedikit merona. Aku tersenyum. Seperti senyum seorang bocah yang menerima setumpuk pemberian permen di tangannya. Aku membalikkan badan, lalu melanjutkan langkah lebih lebar.
Ingin sekali tertawa geli melihat respon pemikiranku atas tindakannya itu. Jika otak warasku bekerja maka aku akan menggap hal itu biasa saja. Tapi.. ntahlah, aku tidak tau... aku tidak tau... aku tidak tau, tapi aku tau aku tersenyum dan sesekali masih memikirkan itu untuk 2 hari kedepan setelah kejadian.
Hari berikutnya aku lebih suka untuk mengamati dia lebih detail lagi. Aku jarang mengobrol dengannya di kampus, tapi terkadang kami sering terlibat basa-basi. Kemarin ku lihat dia tersenyum padaku, ku harap ini hanya praduga ku saja. Dia tersenyum tanpa memamerkan deretan giginya tapi itu senyum terlembut dari seorang teman pria yang pernah ku terima. Senyum dan cara dia memandang ke arahku. GOD. Sekali lagi aku harap ini hanya kebodohan.
Tidak langsung berfikiran bahwa aku ‘suka’ pada si pelaku, terlebih jatuh cinta. Tidak semudah itu. Hanya saja itu semua berbeda. Seolah-olah ada seseorang yang memberikan setumpuk permen di tanganku ketika aku lelah sesenggukan menangis dan merajuk. Baiknya...
Yah, cerita konyolku yang singkat, dan sangat tidak penting ini mungkin akan menjadi bagian yang paling akan ku ingat di akhir musim perkuliahan. Setelah sekian rasa hambar, dan warna abu-abu yang tak kunjung pudar, akhirnya ada seseorang yang berbaik hati memercikkan warnanya walau sesaat untuk menghiburku. Meskipun warna abu-abu itu tetap berkelanjutan setelahnya dan rasa hambar itu masih betah menetap. Tapi bagaimanapun juga, Sang pemberi permen. Terima kasih.

Minggu, 15 November 2009

satu langkah pertama..


Ya.. satu hari baru... satu hal seru.. dan satu pengalaman baru..


Semuanya terpacu dan terlatarbelakangi atas hal-hal yang selama ini aku jalani terlalu monoton, menjenuhkan, dan beranjak memuakkan. Lingkungan kampus yang semakin tidak kondusif untukku pribadi, lingkungan pertemanan yang masih saja betah jalan di tempat, terlebih masalah emosional percintaanku (oo.. please.. sedang tidak ingin membahas cinta di sini). Semuanya berputar dan terus terulang seperti itu, tidak ada perubahan menuju suatu titik positif yang menjanjikan, malah jika dirasakan dengan seksama, keseluruhannya berjalan menuju arah sebaliknya meski terlihat lambat.

Di satu titik jenuh yang ku rasakan sampai membuat ku hampir mati rasa karna terus digelayuti rasa bosan, ntah apa yang tiba-tiba menggelitik pikiranku untuk mendobrak benteng kebosanan itu, ya mungkin bentengnya tidak akan hancur seketika, setidaknya aku mencoba menghancurkannya perlahan dengan cara ku sendiri. Hingga seorang teman menolongku dengan menunjukkan satu arah yang tepat untukku melarikan diri. Dan aku bersiap mengepak barang seperlunya lalu dengan bermodal setengah kepercayaan diri aku berusaha berlari ke arah itu.

Betapa satu hal yang tidak pernah berani (mungkin malas) untuk ku coba, bersaing pada satu ajang resmi yang ku pikir ya... ntah lah, hanya saja aku rasa ini tidak akan pernah berhasil meski aku melakukannya dari dulu juga. Ketika kebanyakan temanku melampirkan berbagai prestasi nonformal yang mereka cantumkan pada CV, namun aku tidak bisa mencantumkannya sebanyak itu. Oooh.. kebodohan apa ini yang baru ku sadari sekarang? Apakah aku yang terlalu (me) malu (kan) untuk tampil di depan umum ketika aku seusia mereka sedangkan saat itu adalah puncak yang sangat menyenangkan untuk menjadi tontonan? Atau aku yang memang tidak bisa melakukan apa-apa ketika mereka sedang sibuk menunjukkan kemampuan di depan banyak orang? Dan cukuplah semua rasa pengecut itu menakutiku, sekarang saatnya aku memulai hal yang seharusnya sudah kulakukan sedari kecil dulu, ooo.. tapi sudahlah.. lebih baik terlambat dari pada aku tidak pernah mencoba mengambil satu langkahpun.

Membuka mata dan melihat sekeliling, satu ajang perlombaan tersedia di sana dan aku mencobanya. Mungkin kategori ajang perlombaan ini cukup menengah sulit ku rasa. Hanya bermodal setengah nekat aku memberanikan diri terlibat dalam ajang tersebut. Efeknya lumayan, ntah kenapa dalam proses menjalaninya ada banyak pikiran positif yang melintas di kepalaku, pikiran-pikiran yang tadinya hanya berupa ulasan singkat, kini berkembang perlahan menunjukkan gambar-gambar yang berbeda dan memamerkan sesuatu yang luas di dalamnya. Pikiran-pikiran tentang masa depan, pikiran-pikiran tentang hal yang lebih banyak di luar sana, tapi ini bukan pikiran-pikiran hayalan, ini pikiran tentang aku dan dunia. Terlebih lagi efek positif itu adalah aku bisa melarikan diri dan pemikiranku meski sebentar dari keadaan dan mereka.

Langkah awal tidak terlalu sulit, cenderung meningkatkan percaya diri yang tadinya tidak utuh. Namun semuanya berbeda ketika di babak ke 2 ajang tersebut. Ya... kemenangan mungkin memang bukan motivasi utamaku, tapi semua orang yang berkumpul di ajang itu pastilah bertujuan untuk sebuah kemenangan, meskipun aku menjawab tidak untuk diriku sendiri, tapi siapa yang bodoh dalam hati?

Berusaha meyakinkan dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk babak ke dua namun tidak cukup maksimal. Hanya menjanjikan sebuah optimalisasi untuk kemampuan diri sendiri, tapi tidak membayangkan sesuatu hal kecil namun berdampak besar dapat menjegalku dalam ajang ini. Suatu kecerobohan yang memang ku sadari dan yaaah... mungkin sifat cuek itu masih mendominasi.

Babak ke 2 di mulai. Bersiap untuk menunjukkan apa yang kupunya di depan puluhan orang, bersiap untuk dipermalukan ataupun sebaliknya, bersiap menghadapi penonton yang tidak pernah menjadi hal menyenangkan dalam hidupku, bersiap bersaing. Aku menyiapkan diri dan senjata yang kupunya dengan cukup mematikan (pikirku), cukup mematikan jika hanya aku yang berperang pada benda mati, tapi ntah apakah senjata ini cukup mematikan untuk mereka yang di sebut para juri. Di sela-sela peperangan akan di mulai, nyaliku sempat naik turun, cukup mengganggu pemikiran optimisme positif yang sudah sangat sulit ku bangun, sial.. tapi aku berusaha menggertaknya dan membuatnya stabil untuk tidak menakutiku. Ntah aku harus bersyukur atau merasa sial dengan urutan pesertaku yang merupakan penampilan pertama. Deg-degan? Aku tidak tahu. Yang jelas ketika memulai penampilan dan dalam prosesnya, ada yang tidak beres dengan performaku, mengecewai diri sendiri, tapi untuk apa lagi? Ini pertunjukkan untuk diperlombakan dan tidak dapat diulang, hanya satu kali dan terima nasib itu. Tapi kupikir kecewa itu hanya terasa sedikit kebas, karena sebagian besar aku merasa masalah ada pada tekhnis eksternal, meskipun tekhnis internal tidak sesempurna awalnya, namun tidak begitu mengacaukan.

Sepanjang hari yang melelahkan itu, terjadi konfrontasi cukup mengganggu di kepalaku, satu sisi terus bersikap menyebalkan akan hal kemenangan, satu sisi berusaha menenangkan diri untuk menghadapi kelelahan. Ooo.. ayolah dari awal aku tidak tertuju pada kemenangan itu, pengalaman.. pengalaman.. dan pengalaman yang menjadi tujuan utama di sini, kemenangan dan kekalahan hanya efek dari usaha yang ku lakukan, selebihnya yang pasti dan jelas ku miliki adalah pengalaman atas apa yang kurasa telah ku jalani dengan (mungkin) seluruh usaha terbaik.

Tiba pada akhir hari peperangan, pengumuman atas siapa mereka yang terpilih. Dan konfrontasi itu semakin memanas. Di tengah-tengah musuh yang tidak gampang ditaklukkan, semuanya nyaris berpengaruh untuk sebuah kemenangan. Dan di kepalaku masih sibuk meributkan tentang apa yang harus mendominasi pikiran yang nantinya berefek pada mood dan kejiwaan. Pemikiran kalah dan berusaha untuk santai memenangkan konfrontasi meski sesekali pemikiran akan kemenangan meneriaki dengan samar. Aku tidak tahu apakah hal ini baik untuk ku terapkan pada setiap ajang yang (mungkin) nanti akan ku hadapi. Dan apapun yang kupikirkan, ternyata hasil dari langkah awalku ini adalah benar seperti apa yang mendominasi kepalaku. Kalah. Ada bagian lain yang menolak akan hal itu. Tapi itu hasil usahaku, dan aku harus menerimanya dengan santai. Bukankah kemenangan tidak menjadi tujuan utama untuk sebuah langkah awal? Bukankah pengalaman yang lebih di junjung tinggi di sini? Ya aku mencoba menghibur diri, tapi tetap saja ada nyeri tersendiri di dalam sini.

Ketika akhir dari acara pelantikan para juara, dan aku masih terduduk manis serta berusaha tersenyum pada teman-teman baruku yang menjadi salah satu pemenang, tiba-tiba seseorang berkata pelan sambil menundukkan sedikit tubuhnya ke arah ku. Sedikit kaget karena orang tersebut merupakan sekutu dari pihak yang menyelenggarakan ajang perlombaan.

“Ya.. coba lu liat nilai lu” suara bas nya yang khas cukup menganggetkanku.

“Nilai?” cuek, masih berusaha bersikap tidak perduli dan sok santai.

“Iya.. nilai lu, nilai penampilan lu di sana” dia menunjuk pada kerumunan orang yang berbaur dengan juri.

“Untuk apa?” terdengar bodoh ku rasa.

“Lu pringkat 11, beda tipis banget..” dengan berbisik pelan sambil berusaha mensejajarkan tubuh , dia berusaha meyakinkan dengan menatap serius ke arahku.

“Oohh..” berusaha menunjukkan padanya bahwa info yang diberinya tidak lebih dari sebuah omong kosong yang tidak berguna.

Namun seketika itu juga, jika boleh sangat jujur untuk mengutarakan apa yang sebenarnya ku rasakan atas dampak dari informasi yang dia berikan, ingin sekali aku menangis (bahagia) dan kalau boleh memeluknya penuh, untuk beberapa detik pelampiasan rasa terima kasih. Sungguh satu hal yang gak pernah ku duga bahwa info itu akan dibawakannya untukku. Sungguh suatu yang berharga (kurasa). Sungguh sesuatu yang tidak akan pernah ku ketahui jika dia tidak mengatakannya padaku. Ketidak perdulianku akan menutup semua hal tersebut dan akan membuatku tidak tahu akan hal itu untuk selamanya. Hal yang kurasa seperti percikan hujan di tengah lahan kering yang tengah ku garap.

Hari itu hujan dan ketika semua orang belum bubar, aku sudah membuka payungku dan beranjak pergi meninggalkan tempat gerah itu. Aku berjalan sembil terus berfikir. Berfikir betapa baiknya dia, berfikir betapa hal yang di sampaikannya sangat berpengaruh untuk daya pikir dan kejiwaanku. Berfikir bahwa kekalahan hari itu tidak begitu menyedihkan. Berfikir untuk tidak lupa bersyukur kepada-Nya. Berfikir bahwa sekarang mungkin belum saatnya, mungkin Tuhan lebih mengerti kenapa Dia menciptakan aku pada keadaan yang seperti ini, mungkin Tuhan lebih mengerti bahwa betapa repotnya nanti jika aku masuk 10 besar dan harus melakukan rangkaian acara yang akan menyita waktu kuliahku yang tengah sibuk-sibuknya.

Dan pemikiran pendek akan ketidak mampuan diri untuk bersaing, toh telah terjawab... jadi bukan saat yang tepat untuk mengutuk diri atas segala hal kekurangan yang tak terselesaikan. Tapi sekarang saatnya berfikir, hal berbeda apa lagi yang berikutnya akan ku coba hadapi untuk menunjukkan apa yang ku punya, dan terus membuka pikiran dan pandangan bahwa duniaku luas. Banyak hal yang bisa ku lakukan tanpa harus terpatok pada satu rutinitas. Dan tidak ada salahnya untuk mencoba demi sebuah pengalaman yang akan menjadi koleksi berharga dalam hidup. Berusahalah pikirku.. terus simpan semangat dan kemampuan itu untuk sesuatu yang menegangkan besok. Dan ini semua notabene bukan sebagai rangkaian penghibur buat diri sendiri. Tapi ini semua merubakan buah dari hasil pemikiran positifku yang kini semakin berkembang.

Special thanks buat Riki. Kalo lu gak ngasi tau hal itu, selamanya gw gak akan pernah tahu karna gw juga tidak akan pernah mencari tahu. Dan hal kecil yang mungkin lu pikir sekedar intermezo itu nyatanya berdampak besar untuk daya pemikiran gw.. hahaha (*hugs u)