Selasa, 30 Juni 2009

When My Mom Remind Me that she is not a young woman anymore

Sungguh tidak sadar bahwa waktu terus berjalan. Membuat segalanya sungguh berbeda. aku makin gede dengan umur yang hampir 20. Karna jarak yang jauh aku tidak sadar bahwa mereka di sana juga pasti bertambah tua. Aku tidak merasakannya. Sedikitpun tidak sadar. Atau terlebih karna rasa cinta dari mereka yang tidak pernah berubah.

Tadi pagi gak tau bermula dari mana aku, Anggi, dan Ita jadi ngebahas KB. Katanya KB spiral yang paling “ampuh” buat mencegah kehamilan. Anggi bilang (dengan pengetahuan seorang perawan) kalo spiral itu ada expired-nya. Nyokapnya pernah ngalamin spiral yang 2 athun expired. Dan setelah diperiksa ternyata spiralnya hampir patah dan itu sempat membahayakan nyokapnya. Aku langsung inget 'dudume' (nyokap.red). Aku pernah denger dia cerita ke sepupunya kalo dia juga pake spiral. Dan spiral yang ia pake itu sudah seumur dengan ku. Itu artinya dia gak pernah pergi periksa apakah spiral itu masih layak atau enggak.

Yang ku rasakan saat itu cuma rasa aneh seperti khawatir tapi.. ntah lah. Ku beri tahu mereka tentang umur spiral yang masih dipakai dudume sampai saat ini. Dan mereka tampak kaget. Seketika Aku berinisiatif untuk menelpon dudume dan akan menyarankannya untuk periksa ke dokter. Hal yang sama pernah dilakukan sepupunya, tapi dia masih saja berdalih untuk menolak dengan sikap cueknya yang seolah merasa gak akan terjadi apa-apa dengannya. Aku sempet ragu. Ntah itu malu karna memang sebelumnya hubunganku dengan dudume tidak pernah sampai titik dimana kita dengan gampang untuk menunjukkan rasa perhatian dengan kalimat. Atau takut ketika dia akan menolak saranku karna aku terlalu berlebihan dan itu terdengar lucu di telinganya.

Tapi ada satu rasa yang membuat aku untuk sangat ingin menelponnya. Aku grogi. Itu bisa terdengar jelas jika dia mendengarkan kalimat awal basa-basi ku. Aku sedikit berbohong tentang sebuah cerita yang menyangkut hal sama dengannya. Sepertinya dia serius mendengarkan ceritaku. Sampai pada akhir aku memberanikan diri untuk menanyakan tentang kondisi alat KB-nya. Dan rasa grogi itu semakin terasa jelas saat memulai kalimat “makanya, dudume periksa atuh ke dokter. Mana tau ada apa-apa. Kan gak ada salahnya”. Deg..deg… imajinasiku menggambarkan bahwa ada jeda cukup lama untuk menunggu jawaban dari kalimat terkahir itu. “iya” dia menjawab dengan sangat pelan. itu adalah kata terhalus yang pernah aku dengar sepanjang beberapa bulan ini. Halus, lembut, atau terdengar malas? Ntahlah aku gak peduli. Yang jelas dia tidak membuatku malu. Terlebih dia juga tidak membuat keadaan menjadi kaku. Dia membalas statement-ku dengan kabar trakhir menstruasinya. Dia bilang ada jeda 5 bulan dari ‘dapet’ saat mengunjungiku (di bogor) oktober lalu hingga beberapa hari yang lalu baru ‘dapet’ lagi. Dia juga cerita saat dia sharing dengan temannya tentang keadaan fisik darah kotornya. Temannya bilang kalau darahnya hitam dan kotor itu tanda awal dari manapouse. Deg! Manapouse. Manapouse yang akan terjadi kepada setiap wanita yang bernanjak tua. Dia bilang juga “mungkin itu tanda manapouse kali ya?” sungguh sebuah perbincangan sangat “wanita” yang jarang sekali dia bagi kepadaku. Dan untuk alasan yang singkat perbincangan kami berakhir.

Ada tamparan sangat jelas ketika kata manapouse itu terdengar dari suaranya. Aku tertunduk lemas. Ada sebuah rasa yang sangat kental tapi sulit untuk aku deskripsikan. Aku menangis. Sesak, dan cukup kebas. Semuanya membuncah dan terhambat di tenggorokanku. Aku tidak bisa menghentikan air mata yang keluar, mesikpun dengan sangat keras aku berusaha tidak ingin menangis. Terlebih untuk menangis pertama kalinya di kampus.

Satu yang ku sadari, bahwa wanita paling cerewet dalam hidupku ini kini sudah tua. Aku tidak bisa membayangkan keriput-keriput yang mulai tergambar jelas di wajahnya. Aku tidak bisa membayangkan pipinya mulai mengempis. Aku tidak bisa membayangkan kelak dia akan mengalami kesulitan dalam berjalan. Aku tidak bisa membayangkan waktu sudah mengikis fisiknya dengan beban umur yang semakin bertambah. Karna yang ku tahu, dia adalah wanita terkuat, terberisik, terbawel, terlincah, tergesit, dan terpintar yang terkadang mebuatku merasa susah. Dan seharusnya aku sudah menyadari itu.

Ntah itu rasa tidak terima atau hanya rasa sensitive sesaat. Yang ku ingat jelas bahwa aku masih merasa seperti anak perempuan mereka yang sangat ingin dimanja. Ngambek kalo gak dibeliin coklat. Ngadu saat dijailin abang-abangnya. Menangis karna kalah berkelahi lagi-lagi dengan abang-abangnya. Membanting pintu kamar ketika merasa sangat kesal. Mengurung diri karna benci untuk bicara. Dan tidak pernah sekalipun terlintas dikepalaku bahwa semua hal itu akan berubah. Karna satu hal yang aku yakini bahwa aku akan selamanya menjadi anak perempuan mereka yang akan selalu merepotkan. Anak kecil yang masih sangat ingin meminta banyak coklat. Anak kecil yang akan selalu menangis jika kalah berebut majalah bobo dengan abang-abangnya. Anak kecil yang selalu menunjuk banyak barang untuk dibeli ketika diajak ke Mal. Anak kecil yang selalu tidak ingin kalah. Karna selamanya aku akan terus tetap merasa seperti itu.

Tapi pagi itu merubah segalanya. Gambaranku tentang cita-cita untuk membahgiakan mereka yang sejak awal ku rancang ketika berada di kota sempit ini semakin tergambar jelas. Dan rasa ingin meraihnya semakin terasa sangat kuat. Naik haji bareng. Jalan-jalan naik mobil paling OK. Berkunjung ke tempat saudara yang udah lama gak ketemu. Liburan ke tempat-tempat yang belum sempat di kunjungi. Diawali dengan keliling Indonesia. Lalu mengajak mereka berkeliling dunia. Wufffhh. Impian yang sangat tinggi, dan kupastikan akan sulit bagiku untuk meraihnya. Tapi aku tetap ingin mencapai ke sana.

Masih seperti itu dan selamanya akan begitu.

Aku harap semuanya jadi kenyataan. Kumohon doa beribu orang untuk mengamininya. Mendukungku untuk membahagiakan kedua orang yang sangat ku cintai itu sebelum aku tidak mampu melakukan apapun untuk mereka. Aku percaya kalo Allah sangat tahu segala sesuatunya tanpa harus ada pengungkapan. Dan aku akan terus berdoa dan berusaha. Terimakasih untuk menghadirkan mereka menjadi kado terindah yang pernah Engkau beri padaku. Aku sangat bersyukur.

1 komentar:

fajarmulyanasution mengatakan...

the strongest person in my life...(Mom)

bagaimana mungkin aku mengatakan diriku kuat kepada dirinya..
kl ketika lutut muda ini hanyalah setetes keringatnya
tangan muda ini adalah seteguk ASInya
dan jantung muda ini adalah kesakitan yang dibawanya selama 9 bulan

bagaimana mungkin aku mengatakan diriku hebat kepada dirinya
kl daging ini adalah makanannya
tulang ini adalah minumannya
dan darah ini adalah darahnya

bagaimana mungkin aku mengatakan aku bisa hidup tanpa dirinya
kl ketika membayangkan kehilangannya saja aku sudah menangis
kl ketika melihatnya sakit saja aku sudah bersedih
kl ketika melihatnya terluka saja aku rela merasakan sakitnya

bagaimana mungkin aku mengatakan kl dia tiada arti
kl smua yang ada dalam diriku, dalam jiwa dan ragaku, dalam fikiranku adalah miliknya